Praktik healing di kalangan mahasiswa Generasi Z kini telah mengalami pergeseran makna yang mendasar, dari yang semula merupakan upaya pemulihan psikologis berubah menjadi praktik konsumsi simbolik yang dipertontonkan secara digital. Fenomena ini relevan untuk dikaji karena berada di persimpangan antara isu kesehatan mental, identitas diri, dan budaya konsumtif masa kini. Penelitian ini berupaya menganalisis cara mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar dalam memaknai serta menjalankan budaya healing di kehidupan sehari-hari. Metode yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam kepada enam mahasiswa aktif sebagai informan. Analisis data merujuk pada tiga kerangka teori, yaitu konsumsi simbolik Pierre Bourdieu, masyarakat tontonan Guy Debord, dan identitas cair Zygmunt Bauman. Temuan menunjukkan bahwa healing kini berfungsi sebagai medium pembentuk identitas, penanda status sosial, dan ruang validasi digital, bukan lagi sekadar pemulihan mental. Komodifikasi kesehatan mental dalam fenomena ini berpotensi menggerus makna healing yang hakiki.
Copyrights © 2026