Donor darah adalah cara untuk menjaga kesehatan dan menyelamatkan nyawa orang lain, yang merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan manusia. Namun, kurangnya informasi, stigma negatif terhadap donor darah, dan kurangnya akses ke kegiatan donor darah terorganisasi menyebabkan kesadaran masyarakat pedesaan terhadap donor darah masih rendah. Di Desa Karangpaningal, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuningan melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 30 Agustus 2025 dengan tujuan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui program donor darah. Untuk pelaksanaan, Bidan Desa dan Palang Merah Indonesia (PMI) menggunakan pendekatan kolaboratif dan partisipatif. Perencanaan, pelaksanaan, dokumentasi, penutup, dan evaluasi adalah semua bagian dari proses kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat lebih memahami manfaat donor darah, bahwa mahasiswa dan warga desa lebih terlibat, dan bahwa telah terjadi kerja sama yang baik antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan PMI. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa ada beberapa hambatan, seperti peserta yang tidak memenuhi syarat donor dan kurangnya literasi kesehatan. Secara keseluruhan, acara ini bermanfaat untuk menyediakan darah bagi yang membutuhkan, meningkatkan kesadaran tentang kesehatan, dan memperkuat solidaritas sosial masyarakat desa. One of the most important aspects of human development is health. Donating blood is one way to preserve health while saving lives. However, due to a lack of information, stigma, and restricted access to organized donation programs, blood donation awareness is still relatively low in rural populations. On August 30, 2025, students from Universitas Muhammadiyah Kuningan's Community Service Program (KKN) in Karangpaningal Village, Panawangan District, Ciamis Regency, organized a blood donation event with the goal of boosting public involvement. The Village Midwife and the Indonesian Red Cross (PMI) were involved in the collaborative and participatory approach. Planning, carrying out, documenting, closing, and evaluating were the phases of the activity. The findings demonstrated improved community awareness of the advantages of blood donation, student and villager involvement, and productive collaboration between PMI, universities, and medical professionals. Some challenges were identified by the evaluation, including low health literacy and noncompliance with donation conditions. By giving blood to those in need, increasing health awareness, and fostering social cohesion within the village community, the program ultimately had a good impact.
Copyrights © 2025