Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang signifikan dan masih menjadi perhatian global dalam hal pembangunan, tidak terkecuali Indonesia, di mana prevalensinya perlu dipantau secara ketat untuk merumuskan intervensi yang efektif. Salah satu wilayah di Indonesia yang masih menghadapi tantangan tersebut adalah Provinsi Jawa Tengah dengan karakteristik sosial ekonomi dan wilayah yang beragam. Dalam publikasi SSGI (2024), tercatat Provinsi Jawa Tengah masih berada pada angka 17,1% di tahun 2024. Namun pada faktanya, tidak semua pemodelan faktor determinasi stunting mengikuti pola yang linier, melainkan dapat menunjukkan pola hubungan yang kompleks dan berubah pada titik-titik tertentu . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbandingan antara model regresi linier berganda dan model regresi nonparametrik spline truncated dalam pemodelan prevalensi stunting Provinsi Jawa Tengah agar mendapatkan model terbaik dan kebijakan yang lebih tepat. Hasil analisis diperoleh bahwa model terbaik yang dapat digunakan untuk memodelkan prevalensi stunting Provinsi Jawa Tengah adalah model regresi nonparametrik spline truncated dengan 1 knot. Dari model yang terbentuk dapat dikatakan bahwa prevalensi stunting dipengaruhi oleh rata-rata lama sekolah perempuan, akses air minum layak, dan akses sanitasi layak dengan pola hubungan yang tidak linier. Ketiga variabel tersebut pada umumnya berkontribusi dalam menurunkan stunting, namun terdapat titik ambang tertentu di mana pengaruhnya berubah. Kata kunci: Prevalensi Stunting; Regresi Linier Berganda; Regresi Spline Truncated; Titik Knot
Copyrights © 2026