Industri rokok di Indonesia menghadapi tekanan berlapis dari regulasi ketat, pergeseran pola konsumsi, dan maraknya peredaran rokok ilegal yang menggerus daya saing perusahaan legal. Dalam konteks tersebut, evaluasi kinerja keuangan berbasis nilai tambah menjadi krusial untuk mengungkap kondisi fundamental perusahaan secara lebih komprehensif dibandingkan pendekatan akuntansi konvensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja keuangan PT Gudang Garam Tbk periode 2015–2024 menggunakan tiga indikator berbasis nilai, yaitu Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA), dan Financial Value Added (FVA), sekaligus membandingkannya dengan rata-rata industri perusahaan sejenis. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia. Perusahaan pembanding dipilih melalui purposive sampling, terdiri atas PT HM Sampoerna Tbk dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EVA perusahaan tercatat positif sepanjang 2015–2023 namun berbalik negatif pada 2024 sebesar Rp-2,12 triliun, mengindikasikan terjadinya value destruction. MVA positif hanya bertahan hingga 2020 dengan puncak Rp117,09 triliun pada 2017, kemudian terus merosot hingga defisit Rp-38,57 triliun pada 2024 seiring anjloknya harga saham. FVA mengikuti pola serupa, positif selama 2015–2023 dan negatif pada 2024 sebesar Rp-242,78 miliar. Dibandingkan rata-rata industri, ketiga indikator perusahaan secara umum berada di bawah standar, kecuali pada 2020. Temuan ini mengonfirmasi bahwa pendekatan berbasis nilai tambah secara simultan mampu mengungkap dimensi kinerja yang tidak tertangkap oleh rasio keuangan konvensional.
Copyrights © 2026