Perkembangan pesat teknologi digital telah meningkatkan akses anak-anak terhadap internet yang tidak hanya memberikan manfaat edukatif, tetapi juga meningkatkan risiko paparan konten pornografi yang dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif, emosional, dan perilaku. Meskipun pemerintah Indonesia telah menetapkan regulasi melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, penyebaran konten tersebut masih sulit dikendalikan. Hasil observasi awal di SMP Negeri 2 Singaraja menunjukkan bahwa siswa memiliki pengetahuan dasar tentang pornografi, namun belum memahami secara mendalam dampaknya, sehingga diperlukan media edukasi yang komunikatif dan sesuai dengan karakteristik perkembangan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan film animasi 3 dimensi berjudul “Pelangi yang Tercoreng” sebagai media edukasi serta menganalisis respon pengguna terhadap media yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model Multimedia Development Life Cycle (MDLC) yang terdiri dari enam tahap, yaitu concept, design, material collecting, assembly, testing, dan distribution. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan angket, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film animasi yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan sangat tinggi dengan skor validasi ahli sebesar 1,00. Respon pengguna menunjukkan 64% kategori sangat baik dan 36% kategori baik, sehingga film ini dinilai layak dan efektif sebagai media edukasi.
Copyrights © 2026