Implementasi model hybrid learning yang memadukan pembelajaran tatap muka dan daring di perguruan tinggi menjadi respons penting terhadap transformasi pendidikan pada era digital. Model ini menawarkan fleksibilitas waktu, perluasan akses belajar, serta peluang pemanfaatan teknologi dalam proses akademik. Namun, penerapannya tidak selalu berjalan lancar karena memunculkan berbagai konflik, baik pada tingkat individu maupun institusional. Konflik individu tampak dalam perbedaan persepsi antara dosen dan mahasiswa mengenai efektivitas pembelajaran, tingkat interaksi, beban tugas, serta kesiapan mengikuti proses belajar berbasis teknologi. Sementara itu, konflik institusional berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur digital, ketidaksiapan sistem pendukung, dan kebijakan kampus yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan hybrid learning. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk konflik yang muncul dalam implementasi hybrid learning di perguruan tinggi serta mengidentifikasi strategi manajemen konflik yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik paling dominan berkaitan dengan rendahnya interaksi akademik, kesenjangan kemampuan teknologi, perbedaan harapan terhadap kualitas pembelajaran, dan hambatan komunikasi antara pihak yang terlibat. Strategi manajemen konflik yang relevan meliputi kolaborasi sebagai pendekatan utama, diikuti kompromi dan akomodasi untuk menyelesaikan perbedaan kepentingan maupun kendala teknis. Selain itu, komunikasi terbuka, pelatihan teknologi, evaluasi berkala, dan kebijakan institusional yang fleksibel diperlukan agar konflik dapat dikelola secara konstruktif. Dukungan pimpinan kampus, kesiapan dosen, serta partisipasi mahasiswa juga menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan penerapan strategi tersebut di lingkungan akademik. Dengan strategi yang tepat, konflik dalam hybrid learning tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diubah menjadi peluang untuk membangun sistem pembelajaran perguruan tinggi yang lebih inklusif, adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan pada masa depan akademik.
Copyrights © 2026