Penelitian ini mengeksplorasi dimensi terapeutik dalam tradisi hadis dan tasawuf yang diposisikan sebagai fondasi tindakan introspektif (muhasabah). Fokus utama kajian ini adalah hadis dalam kitab al-Arba’ūn fī al-Tasawuf (No. 38) karya Abu Bakar al-Sulami yang mendefinisikan orang berakal sebagai individu yang senantiasa mengevaluasi diri. Masalah penelitian ini berfokus pada kedudukan hadis tersebut serta bagaimana interaksi antara konsep muhasabah dengan tren psikologi modern self-healing. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan hermeneutika hadis melalui kitab I’tiqād Aimmat Ahl al-Hadīts karya Al-Isma'ili dan teori psikologi self-healing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis yang dikutip Al-Sulami, "Al-’āqil alladhī ‘aqala ‘an Allāh amrahū", berstatus da’īf jiddan (sangat lemah), namun secara substansi didukung oleh hadis yang lebih sahih dalam Sunan al-Tirmidhi. Temuan penelitian menegaskan adanya distingsi fundamental: muhasabah berorientasi pada proses evaluasi spiritual dan pertobatan kepada Allah (uwiya), sementara self-healing kontemporer cenderung berfokus pada pemulihan luka emosional personal (duniawi). keduanya berbeda secara orientasi—muhasabah pada aspek spiritual dan self-healing pada aspek mental.
Copyrights © 2026