Akibat posisi Indonesia di zona Cincin Api Pasifik, risiko seismik sangat tinggi, terutama di Jakarta yang memiliki lapisan endapan tanah lunak tebal (kelas situs SE) yang memicu amplifikasi gelombang gempa. Bangunan 11 lantai dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) murni mengandalkan filosofi Strong Column Weak Beam (SCWB) untuk mengarahkan kerusakan pada balok dan mencegah keruntuhan. Namun, pada fase pasca leleh, peningkatan kekuatan aktual balok (overstrength) dan degradasi kekakuan dapat menyebabkan kegagalan SCWB di lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemenuhan kriteria SCWB secara eksplisit pada kondisi pasca leleh melalui analisis pushover, serta menentukan urutan pembentukan sendi plastis dan level kinerja menurut ATC 40. Metode mencakup pemodelan 3D dengan ETABS, perhitungan rasio SCWB elastis sesuai SNI 2847:2019, dan analisis static non-linear pushover dengan distribusi beban lateral berbasis ragam. Hasil verifikasi menunjukkan semua hubungan balok kolom memenuhi ΣMnc ≥ 1,2 ΣMnb dengan rentang 1,22–4,41. Analisis pushover mengonfirmasi mekanisme beam sidesway, dengan sendi plastis pertama muncul pada balok lantai dasar pada step 27 (arah X) dan step 25 (arah Y), tanpa kerusakan kolom hingga akhir. Titik kinerja dari metode spektrum kapasitas ATC 40 menghasilkan gaya geser ultimit melampaui demand desain; total drift mengindikasikan Immediate Occupancy, namun inelastic drift mengarah pada Damage Control. Disimpulkan bahwa kriteria SCWB elastis cukup protektif pada fase inelastis, namun analisis non linear diperlukan untuk menangkap redistribusi gaya dan drift plastis signifikan pada tanah lunak.
Copyrights © 2026