Transformasi pertanian merupakan proses perubahan struktural yang tidak hanya mencakup modernisasi produksi dan adopsi teknologi, tetapi juga melibatkan restrukturisasi hubungan sosial, kelembagaan, dan distribusi kekuasaan di pedesaan. Meskipun berbagai studi telah menyoroti dimensi teknis transformasi pertanian, kajian mengenai peran sosial elit lokal dalam proses tersebut masih relatif terbatas dan terfragmentasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis dinamika sosial elit lokal dalam transformasi pertanian melalui pendekatan systematic literature review terhadap publikasi akademik periode 2018–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa elit lokal memiliki peran ganda yang bersifat ambivalen. Dalam konteks kelembagaan yang partisipatif, elit dapat berfungsi sebagai agen perubahan yang mempercepat difusi inovasi, memperluas akses pasar, dan memperkuat organisasi petani. Namun dalam struktur kekuasaan yang eksklusif, elit berpotensi melakukan penguasaan sumber daya (elite capture) yang memperkuat ketimpangan sosial dan menghambat inklusivitas pembangunan pertanian. Faktor budaya lokal, konfigurasi politik desa, distribusi modal sosial, serta relasi kekuasaan menjadi variabel kunci yang menentukan arah dan dampak transformasi tersebut. Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh kualitas tata kelola sosial dan distribusi kekuasaan di tingkat lokal. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap struktur sosial elit lokal menjadi prasyarat penting dalam merancang kebijakan pertanian yang inklusif dan berkeadilan.
Copyrights © 2026