Keterlibatan aktor non-formal dalam politik elektoral, seperti pengusaha, organisasi masyarakat, dan tokoh agama, semakin menonjol dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Salah satu aktor penting di wilayah santri adalah kyai, yang tidak hanya memiliki otoritas keagamaan, tetapi juga pengaruh politik. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik relasi patron-klien dalam pemilihan kepala daerah Kota Cirebon tahun 2024, khususnya di wilayah santri Kampung Palijati. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori patron-klien dari James Scott yang mencakup tiga unsur utama: hubungan personal, kepatuhan, dan timbal balik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan calon kepala daerah menjalin relasi politik dengan kyai dan masyarakat melalui pendekatan personal, loyalitas, dan pertukaran kepentingan. Relasi ini membentuk struktur patronase berbasis piramida, di mana kyai berperan sebagai perantara sekaligus patron lokal terhadap masyarakat. Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang bagaimana kekuatan simbolik tokoh agama berperan dalam politik lokal, serta bagaimana relasi patron-klien bekerja dalam konteks wilayah berbasis keagamaan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pembahasan sosiologi politik dan perbaikan praktik pemilu yang lebih inklusif dan etis.
Copyrights © 2025