Penyakit gagal ginjal kronis telah menjadi masalah global yang terus-menerus mengalami peningkatan baik nasional maupun global. Pasien penderita gagal ginjal kronis yang menjalani prosedur hemodialisa mengalami beban yang sangat berat, baik dalam aspek fisik, emosional, maupun sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, faktor sosiodemografi dapat memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisa berdasarkan jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan. Penelitian kuantitatif deskriptif komparatif ini dilakukan pada 63 pasien gagal ginjal di salah satu rumah sakit swasta di Bandung dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan uji statistik Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien adalah WHOQOL (BREF), yang terdiri dari 24 pertanyaan yang mengukur domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan kualitas hidup pasien berdasarkan jenis kelamin (p-value = 0,413), status pernikahan (p-value = 0,337), dan status pekerjaan (p-value 0,681). Namun, nilai rata-rata menunjukkan bahwa kualitas hidup wanita yang menikah dan bekerja lebih tinggi pada domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa.
Copyrights © 2026