Urbanisasi di Indonesia yang terus meningkat berdampak pada tingginya kebutuhan hunian di kawasan perkotaan, termasuk di Kota Semarang, sementara ketersediaan lahan yang terbatas memicu kenaikan harga tanah dan munculnya permukiman informal. Pemerintah menghadirkan solusi hunian vertikal melalui pembangunan rumah susun, salah satunya Rusunawa Karangroto Baru, sebagai upaya penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, dalam perkembangannya, kualitas lingkungan hunian mengalami penurunan akibat ketidaksesuaian antara desain fisik bangunan dengan pola perilaku dan kebutuhan sosial penghuni, yang ditandai oleh alih fungsi ruang dan menurunnya kualitas lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan redesain dengan pendekatan Arsitektur Perilaku untuk menghasilkan hunian yang lebih responsif terhadap aktivitas dan interaksi penghuni, sehingga mampu meningkatkan kualitas lingkungan secara fisik maupun sosial serta mengembalikan fungsi rusunawa sebagai solusi perumahan yang layak dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026