Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dalam pertanian telah menyebabkan degradasi tanah, ketidakseimbangan nutrisi, dan penurunan populasi mikroba, yang mengancam keberlanjutan jangka panjang. Bakteri Rizosfer Peningkat Pertumbuhan Tanaman (PGPR) menawarkan alternatif biologis yang menjanjikan untuk meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga kesehatan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kedalaman ekstraksi akar bambu yang optimal untuk persiapan PGPR dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil sawi putih (Brassica rapa L.). Penelitian ini dilakukan di Dusun Babatan, Desa Bakalan, Kota Pasuruan, dari Januari hingga April 2025, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan: PGPR diekstraksi pada kedalaman 0, 10, 20, 30, dan 40 cm, masing-masing diulang lima kali. PGPR diaplikasikan empat kali selama masa pertumbuhan pada 5, 10, 15, dan 20 hari setelah tanam. Parameter pertumbuhan termasuk tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat kering bagian atas dan bawah tanaman, dan berat panen diukur pada 10, 15, 20, dan 25 hari setelah tanam. Hasil menunjukkan bahwa PGPR yang diekstrak pada kedalaman 20 cm menghasilkan hasil yang secara signifikan lebih unggul di semua parameter. Pada saat panen, perlakuan 20 cm menghasilkan 263,52 g per tanaman, secara signifikan lebih tinggi daripada kontrol (198,60 g). Perlakuan ini juga menunjukkan tinggi tanaman tertinggi (32,28 cm), jumlah daun (9,68), luas daun (820,73 cm²), dan berat kering total. Temuan ini menunjukkan bahwa PGPR akar bambu yang diekstrak pada kedalaman 20 cm paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil sawi putih, menawarkan solusi biofertilizer berkelanjutan untuk produksi sayuran.
Copyrights © 2026