Peningkatan pendapatan akibat promosi jabatan dan perkembangan karier seharusnya mendorong akumulasi tabungan dan kesejahteraan finansial. Namun, banyak karyawan urban di Indonesia justru mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan konsumsi yang sejalan dengan kenaikan pendapatan. Fenomena ini penting dikaji karena dapat menghambat pembentukan aset dan ketahanan finansial jangka panjang. Meskipun hubungan antara pendapatan dan literasi keuangan telah banyak diteliti secara kuantitatif, masih terbatas penelitian yang mengeksplorasi pengalaman subjektif pekerja urban dalam menghadapi peningkatan pendapatan dan tekanan gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara literasi keuangan dan lifestyle inflation pada karyawan urban di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 18 karyawan berusia 22–35 tahun di Jakarta dan Makassar yang telah menerima kenaikan gaji atau promosi dalam dua tahun terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan Reflexive Thematic Analysis. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama, yaitu perbandingan sosial, peningkatan pengeluaran, kesadaran finansial, dan kesulitan menabung. Temuan menunjukkan bahwa budaya gengsi, pengaruh media sosial, kemudahan akses teknologi finansial, serta tuntutan keluarga dan budaya berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi setelah kenaikan pendapatan. Selain itu, meskipun partisipan memiliki pemahaman dasar mengenai pengelolaan keuangan, mereka masih mengalami kesulitan menerapkan perilaku finansial yang disiplin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lifestyle inflation merupakan fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi antara literasi keuangan, faktor perilaku, teknologi digital, dan konteks sosial budaya. Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi keuangan berbasis perilaku untuk meningkatkan kesejahteraan finansial pekerja urban.
Copyrights © 2026