Defisiensi vitamin A (Vitamin A Deficiency, VAD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya pada kelompok anak dan ibu hamil yang sangat bergantung pada beras sebagai pangan pokok. Pendekatan konvensional melalui suplementasi, fortifikasi pangan, dan diversifikasi diet menghadapi berbagai kendala logistik, ekonomi, dan sosial-budaya sehingga dampaknya belum optimal. Biofortifikasi beras dengan provitamin A melalui pengembangan “golden rice” menawarkan alternatif intervensi jangka panjang. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur terstruktur mengenai evolusi pengembangan golden rice dari GR1, GR2/GR2E hingga pendekatan penyuntingan genom berbasis CRISPR-Cas, efektivitasnya sebagai strategi biofortifikasi provitamin A, serta kontroversi, tantangan, dan prospeknya dalam kerangka ketahanan gizi berkelanjutan. Tinjauan menunjukkan bahwa GR2E dan Golden Rice berbasis CRISPR mampu meningkatkan kandungan β-karoten pada bagian endosperm tanpa mengganggu karakter agronomis utama, namun efektivitasnya di tingkat populasi sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi, bioavailabilitas, retensi selama pengolahan, serta konteks regulasi dan penerimaan sosial. Golden Rice berpotensi menjadi intervensi pelengkap yang penting, tetapi perlu diintegrasikan dengan program diversifikasi pangan dan edukasi gizi agar berdampak nyata terhadap penurunan VAD.
Copyrights © 2026