Abstrak Makalah ini menjelaskan situasi sebenarnya dari "Southern Fever (Nanpō-netsu)" di Jepang pada tahun 1940-an dan kelayakannya dengan menganalisis kiriman pembaca dalam rubrik “Kaigai-yuuhi-mondou (Overseas Flying Questions and Answers)” majalah Shin Seinen (New Youth), serta saran dari editor majalah dan politikus Haruji Tahara dan lainnya. Definisi Nampō-netsu merujuk pada kecenderungan sosial berbagai kalangan yang sebenarnya tertarik dan ingin bepergian ke wilayah yang disebut “the south (nanpō)” (laut selatan di depan, laut selatan di belakang). Seiring dengan perluasan wilayah baru militer Jepang, wilayah militer dan politik seperti Singapura, Filipina, dan Indonesia menjadi pusat perhatian. Poin-poin yang terungkap atau disimpulkan dari Kaigai-yuuhi-mondou selama periode Indonesia berada di bawah administrasi militer Jepang meliputi, pertama, bahwa sekitar Mei 1942 ketika jumlah individu yang bercita-cita untuk bepergian ke Nanpō sebagai karyawan militer meningkat. Kedua, dari periode yang sama, permohonan dari perempuan menunjukkan tren peningkatan, yang semakin menonjol setelah 1943. Ketiga, meskipun kemungkinan besar mereka yang memiliki pengalaman di luar negeri diprioritaskan untuk ditugaskan ke Nanpō, kondisi ini tidak berlaku bagi keluarga militer. Disimpulkan bahwa kriteria seleksi termasuk telah menjadi tentara sukarela dan memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu.
Copyrights © 2026