Dalam lima tahun terakhir, ketegangan di Selat Taiwan meningkat signifikan dengan intensifikasi latihan militer People’s Liberation Army (PLA) yang berfungsi sebagai instrumen diplomasi koersif oleh Tiongkok. Latihan tersebut tidak sekadar unjuk kekuatan, melainkan dirancang sistematis untuk menyampaikan ancaman terbatas dan menekan Taiwan, Amerika Serikat, serta aktor regional tanpa eskalasi perang terbuka. Dengan menggabungkan simulasi blokade, pelanggaran median line, dan operasi gabungan, Tiongkok mengokohkan klaim kedaulatan sekaligus menguji batas toleransi AS melalui strategi deterrence yang meliputi punishment dan denial. Dampak latihan ini menguatkan rivalitas struktural di Indo-Pasifik, meningkatkan risiko eskalasi militer, serta memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi regional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengurai peran latihan militer sebagai alat komunikasi politik multi-level yang menggabungkan pesan strategis kepada aktor domestik dan internasional, menegaskan perlunya dialog strategis dan kerja sama regional guna mencegah konflik terbuka.
Copyrights © 2026