Penelitian ini menganalisis strategi pengendalian biaya klaim kendaraan bermotor di Perusahaan Asuransi MI, perusahaan asuransi umum di Indonesia yang mencatat rasio klaim 58,44% pada tahun 2024, jauh melampaui rata-rata industri sebesar 38,77% dengan gap +19,67 poin persentase. Tiga strategi dikaji: sentralisasi operasional, digitalisasi pelaporan klaim, dan sentralisasi bengkel mitra. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus (Creswell & Creswell, 2018; Yin, 2018), data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan enam informan yang dipilih secara purposive, telaah dokumen, dan observasi terbatas periode Maret-April 2026 atas data 2020-2025. Temuan mengidentifikasi lima sumber inefisiensi utama: fragmentasi proses, keterlambatan dokumen, variasi biaya bengkel (30-40%), lemahnya monitoring real-time, dan koordinasi bengkel yang tidak terstandar. Integrasi ketiga strategi menghasilkan dampak terukur: rasio klaim turun dari 58,44% (2024) menjadi 42,32% (2025), nilai klaim turun 25% dari Rp142 miliar menjadi Rp107 miliar, dan gap terhadap industri menyempit dari +19,67 p.p. menjadi +2,73 p.p. (AAUI, 2026). Komplain klaim turut menurun 54% dari 68 kasus (2023) menjadi 31 kasus (2025). Penelitian menyimpulkan bahwa klaim bukan sekadar beban finansial, tetapi proses strategis yang menentukan efisiensi, kontrol, kepercayaan nasabah, dan pada akhirnya daya saing premi perusahaan di pasar.
Copyrights © 2026