Studi ini meneliti tentang nilai-nilai kosmologi Islam ke dalam pengurangan risiko bencana (PRB) modern dan pelestarian ekologis. Di era Antroposen, krisis lingkungan seperti perubahan iklim dan degradasi ekosistem sering dipandang sebagai kegagalan teknis, mengabaikan dimensi spiritual dan etika yang mendasarinya. Dengan menggunakan interpretasi tematik (tafsīr maudhū'ī) terhadap konsep-konsep Al-Qur'an tentang Mizan (keseimbangan), Khalifah (kepemimpinan), Tauhid (monoteisme), dan Fitrah (kejadian asal), studi ini menganalisis bagaimana paradigma Islam dapat berfungsi sebagai etika dasar bagi ketangguhan. Temuan penelitian menyoroti bahwa prinsip Mizan dalam QS Ar-Rahman (7–9) menyediakan kerangka teologis untuk keseimbangan ekologis, di mana setiap pelanggaran (tatghaw) menyebabkan kerusakan (fasād) dan bahaya lingkungan. Lebih lanjut, peran manusia sebagai Khalifah menekankan mandat perlindungan (amanah) daripada eksploitasi mutlak. Mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam manajemen bencana berbasis komunitas dan filantropi Islam termasuk zakat, wakaf, dan sedekah menawarkan pendekatan holistik yang beresonansi dengan masyarakat Muslim, menjembatani kesenjangan antara manajemen bencana teknis dan tanggung jawab spiritual. Studi ini menyimpulkan bahwa memusatkan kembali hubungan manusia-alam dalam kerangka Tauhid sangat penting untuk mitigasi bencana yang berkelanjutan dan pembangunan ketangguhan inklusif terhadap risiko sistemik perubahan iklim.
Copyrights © 2025