Kota Semarang, sebagai Ibu Kota Jawa Tengah, menghadapi tantangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang signifikan, mencapai 5281,97 Gg CO2eq pada tahun 2022, dengan sektor energi sebagai penyumbang terbesar (69,03%). Emisi ini terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan yang mengalami kenaikan rata-rata 12% per tahun, mencapai lebih dari 2 juta kendaraan pada tahun 2019. Tren kenaikan emisi GRK ini akan terus berlanjut hingga tahun 2030. Wilayah Semarang Selatan, dengan aktivitas transportasi yang tinggi menjadi fokus utama penelitian ini. Menggunakan metode supervised learning dengan algoritma Random Forest pada Google Earth Engine (GEE) untuk klasifikasi vegetasi, penelitian ini mengintegrasikan data emisi karbon dengan tutupan vegetasi untuk menganalisis kapasitas penyerapan CO2 di wilayah Semarang Selatan. Estimasi emisi karbon kendaraan dilakukan dengan metode traffic counting yang dikonversi berdasarkan jenis kendaraan dan konsumsi bahan bakarnya. Hasil penelitian menunjukkan emisi CO₂ pada wilayah Semarang Selatan mencapai 18.747 kg/jam pada pagi hari dan 19.151 kg/jam pada sore hari, dengan mobil penumpang menjadi penyumbang emisi terbesar dan Jalan Mgr. Soegiyopranoto sebagai ruas dengan emisi tertinggi. Klasifikasi tutupan vegetasi menggunakan algoritma Random Forest menghasilkan luasan pohon 160,4 ha, semak 125,8 ha, dan rumput 91,3 ha dengan overall accuracy 85,6%. Namun, dari 15 ruas jalan yang dianalisis, hanya di dua ruas jalan yang vegetasinya mampu menyerap emisi secara penuh, sedangkan 13 ruas jalan lainnya masih menunjukkan kelebihan emisi CO₂. Hal ini menandakan bahwa tutupan vegetasi eksisting belum memadai sehingga diperlukan penambahan dan peningkatan kualitas vegetasi untuk mereduksi emisi karbon.
Copyrights © 2026