Studi ini meneliti bagaimana stereotip gender dilanggengkan di ruang kelas dan bagaimana hal itu memengaruhi perkembangan identitas siswa dan peluang pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia. Studi ini, yang menggunakan metodologi kuantitatif berdasarkan analisis literatur ilmiah, menunjukkan bagaimana praktik-praktik umum seperti pembagian tugas, teknik penilaian guru, dan representasi gender dalam buku teks dan interaksi di kelas secara implisit memperkuat norma-norma konvensional tentang maskulinitas dan feminitas. Oleh karena itu, anak laki-laki dan perempuan seringkali dibatasi oleh harapan peran yang sesuai dengan konsepsi masyarakat yang diulang di ruang kelas, bukan oleh keterampilan mereka. Berdasarkan hasil tersebut, studi ini memberikan rekomendasi kebijakan, seperti mengadopsi indikator kesetaraan gender di tingkat lokal, meningkatkan peraturan sekolah anti-stereotip, melanjutkan pelatihan guru, dan memperbarui kurikulum untuk memasukkan sudut pandang gender yang substansial. Dalam hal ini, sekolah diharapkan berkembang menjadi lingkungan yang kritis dan transformatif yang membentuk generasi muda yang adil, berempati, dan tidak terikat oleh norma gender.
Copyrights © 2026