Keluarga merupakan institusi sosial yang berperan penting dalam menjaga stabilitas kehidupan masyarakat, namun berbagai konflik seperti perselingkuhan kerap mengancam keharmonisan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi perselingkuhan dalam keluarga pada film Ipar adalah Maut menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes serta dikaitkan dengan perspektif hukum keluarga Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika, didukung oleh pendekatan normatif melalui kajian perundang-undangan. Data primer diperoleh dari adegan-adegan dalam film, sedangkan data sekunder berasal dari literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perselingkuhan dalam film direpresentasikan sebagai proses bertahap yang dibangun melalui tanda visual, dialog, dan simbol. Pada tingkat denotasi, perselingkuhan ditampilkan melalui interaksi fisik dan perubahan perilaku tokoh. Pada tingkat konotasi, adegan-adegan tersebut menggambarkan perkembangan hubungan terlarang yang semakin intens dan disengaja. Sementara pada tingkat mitos, film merepresentasikan runtuhnya nilai moral, normalisasi perilaku menyimpang, serta adanya penundaan konsekuensi dari pelanggaran tersebut. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa faktor penyebab perselingkuhan meliputi lemahnya komunikasi, kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional, pengaruh lingkungan terdekat, krisis kepercayaan, dan lemahnya kontrol diri. Dari perspektif hukum Islam (hukum taklifi), perselingkuhan dipandang sebagai pelanggaran terhadap prinsip pernikahan yang sakral dan memiliki konsekuensi moral serta spiritual. Dengan demikian, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi sosial dan edukasi moral bagi masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian komunikasi, semiotika, serta studi hukum keluarga Islam.
Copyrights © 2026