Perkembangan financial technology (fintech) mendorong munculnya layanan paylater, salah satunya fitur SPayLater pada aplikasi Shopee yang banyak digunakan mahasiswa karena kemudahan dan fleksibilitas pembayarannya. Penelitian ini menganalisis pengaruh Perceived Ease of Use (PEoU), Perceived Usefulness (PU), dan Attitude Toward Using (ATU) terhadap Behavioral Intention to Use (BITU) fitur SPayLater melalui pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Pendekatan kuantitatif digunakan dengan menyebarkan kuesioner skala Likert lima poin kepada 100 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda pada IBM SPSS. Hasil menunjukkan ketiga variabel berpengaruh positif dan signifikan terhadap BITU (p < 0,001), dengan PEoU sebagai prediktor terkuat (β = 0,412), diikuti PU (β = 0,350) dan ATU (β = 0,320). Secara simultan model signifikan (F = 76,415; p < 0,001) dan menjelaskan 70,5% varians BITU (R² = 0,705). Temuan menegaskan relevansi TAM dalam menjelaskan adopsi layanan paylater di kalangan mahasiswa, sekaligus mengindikasikan bahwa kemudahan penggunaan lebih dominan daripada manfaat yang dipersepsikan. Implikasinya, penyedia fintech perlu memprioritaskan kesederhanaan antarmuka untuk mendorong adopsi.
Copyrights © 2026