Administrasi server berbasis Secure Shell (SSH, port 22) dan Remote Desktop Protocol (RDP, port 3389) pada infrastruktur layanan publik, khususnya Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Mahakam Ulu, secara inheren memperluas permukaan serangan terhadap Teknik brute force (MITRE ATT&CK T1110). Model mitigasi manual yang bergantung pada analis memperpanjang jarak antara deteksi kegagalan logon berulang dan kontainmen, sehingga membuka jendela eksploitasi yang dapat dimanfaatkan penyerang. Penelitian ini merancang dan memvalidasi prototipe simulasi mitigasi otomatis berbasis semantic Active Response Wazuh dalam kerangka Security Information and Event Management (SIEM). Arsitektur klien–pelayan (React/Vite pada sisi klien; Node.js/Express dengan persistensi JSON pada sisi pelayan) menjalankan tiga skenario pengujian fungsional: serangan brute force bersumber tunggal pada SSH, bersumber tunggal pada RDP, dan multi-sumber dengan tiga alamat IP berotasi. Setiap skenario menggunakan ambang 10 kegagalan autentikasi untuk memicu aturan deteksi 5710 (SSH) dan 60122 (RDP) beranotasi T1110, dilanjutkan eksekusi Active Response berupa firewall-drop (Linux) dan netsh.exe (Windows). Hasil pengujian menunjukkan Mean Time to Respond (MTTR) diskret sebesar satu tick simulasi pada ketiga skenario, dengan rasio keberhasilan isolasi alamat IP mencapai 100% terhadap himpunan sumber yang dimodelkan. Prototipe yang tervalidasi berfungsi sebagai cetak biru konseptual bagi perencanaan penerapan SIEM pada infrastruktur publik tanpa risiko gangguan layanan produksi.
Copyrights © 2026