Permasalahan utama dalam Pembangunan sektor perikanan di Kabupaten Kotabaru adalah pendekatan kebijakan yang cenderung seragam, mengabaikan perbedaan potensi riil antar wilayah dan dualisme kinerja antara sub-sektor tangkap dan budidaya. Kajian ini bertujuan memetakan spesialisasi dan dinamika sektor perikanan (Tangkap dan Budidaya) di Kabupaten Kotabaru, guna menyediakan landasan data empiris bagi perumusan kebijakan pembangunan sosial-ekonomi berbasis Ekonomi Biru yang selama ini cenderung pukulrata dan kurang efektif. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan data panel periode 2020–2024 dari 22 kecamatan Kotabaru, yang dianalisis secara mendalam menggunakan Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), dan Shift-Share Analysis (SSA). Hasilnya menegaskan adanya dualisme sektoral yang kritis: Sektor Tangkap didominasi oleh wilayah di Kuadran I SSA (rapid growth, competitive), menunjukkan posisi ideal Kotabaru. Sebaliknya, Sektor Budidaya menghadapi tekanan perlambatan pertumbuhan makro (nilai M negatif merata). Namun, ditemukan resiliensi luar biasa di Budidaya (Kelumpang Selatan/Hilir) yang berada di Kuadran II SSA (slow growth, competitive), berhasil melawan tren pasar yang lesu melalui keunggulan kompetitif lokal. Sementara itu, wilayah kepulauan Kuadran III Tangkap (misalnya Pulau Sembilan) menunjukkan kesempatan yang hilang akibat inefisiensi lokal (L negatif). Disimpulkan bahwa kebijakan Ekonomi Biru Asimetris harus segera diterapkan, dengan fokus pada Akselerasi Kuadran I dan Reformasi Struktural Kuadran III untuk mewujudkan transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan Title:Mapping of Blue Economy- Based Leading Fisheries Areas and Commodities in Kotabaru Regency The main problem in the development of the fisheries sector in Kotabaru Regency is a policy approach that tends to be uniform, ignoring the disparities in real potential between regions and the dualism in performance between the capture and aquaculture sub-sectors. This study aims to map the specialization and dynamics of the fisheries sector (Capture and Aquaculture) in Kotabaru Regency, providing empirical data for formulating Blue Economy-based socio-economic development policies that have historically been generalized and ineffective. This quantitative research employs a panel data approach covering the 2020–2024 period across 22 sub-districts, analyzed in-depth using the Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), and Shift-Share Analysis (SSA). The results confirm a critical sectoral dualism: The Capture Sector is dominated by regions in SSA Quadrant I (Rapid Growth, Competitive), affirming Kotabaru's ideal position. Conversely, the Aquaculture Sector faces macro-level growth pressure (widespread negative M values). However, outstanding resilience was discovered in Aquaculture (Kelumpang Selatan/Hilir) located in SSA Quadrant II (Slow Growth, Competitive), successfully countering the external market slowdown through superior local competitive advantage. Meanwhile, Capture Sector's Quadrant III islands (e.g., P. Sembilan) exhibit a 'lost opportunity' due to localized inefficiencies (negative L). It is concluded that an Asymmetric Blue Economy Policy must be implemented, focusing on Quadrant I Acceleration and Quadrant III Structural Reform to achieve sustainable socio-economic transformation.
Copyrights © 2026