Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di wilayah Sulawesi Barat yang mencatat angka prevalensi cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu. Rancangan studi yang digunakan adalah case control dengan jumlah sampel sebanyak 122 responden (61 kasus dan 61 kontrol) yang dipilih melalui teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan data pengukuran antropometri anak. Analisis data mencakup uji bivariat menggunakan odds ratio (OR) serta analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil analisis bivariat mengidentifikasi sejumlah variabel sebagai faktor risiko yang signifikan, yaitu pengetahuan ibu (OR=3,147; 95% CI: 1,502–6,594), pola makan (OR=4,986; 95% CI: 2,300–10,808), riwayat berat badan lahir rendah atau BBLR (OR=2,818; 95% CI: 1,161–6,842), riwayat penyakit infeksi (OR=2,605; 95% CI: 1,243–5,459), serta ketidaktersediaan ASI eksklusif (OR=2,553; 95% CI: 1,230–5,299). Di sisi lain, pendapatan keluarga yang memadai terbukti berperan sebagai faktor pelindung atau protektif (OR=0,391; 95% CI: 0,154–0,991). Pada analisis multivariat, tiga variabel yang tetap signifikan adalah pola makan (OR=4,420; p=0,017), riwayat pemberian ASI eksklusif (OR=3,621; p=0,006), dan pendapatan orang tua (OR=0,167; p=0,003). Pola makan menjadi faktor paling dominan dalam penelitian ini. Kesimpulan penelitian menunjukkan perlunya intervensi terpadu yang menyasar perbaikan pola makan balita, peningkatan cakupan ASI eksklusif, dan perbaikan kondisi ekonomi keluarga dalam upaya menurunkan prevalensi stunting di wilayah ini.
Copyrights © 2026