Penyakit malaria yang ditularkan melalui vektor nyamuk Anopheles sp. masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Ketergantungan pada insektisida kimia dalam jangka panjang telah memicu masalah baru, yakni resistensi vektor dan pencemaran lingkungan. Sebagai solusi alternatif, penelitian ini mengeksplorasi potensi hayati dari ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum), daun sereh (Cymbopogon citratus), dan daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai larvasida alami yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Farmasi Universitas Tadulako, ditemukan bahwa ketiga ekstrak tersebut memiliki daya bunuh terhadap jentik nyamuk Anopheles sp., namun dengan tingkat efektivitas yang berbeda-beda. Peningkatan konsentrasi ekstrak (0,14 ml hingga 0,20 ml) terbukti berbanding lurus dengan tingkat kematian larva, yang menunjukkan adanya hubungan dosis-respons yang positif. Ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) menunjukkan performa paling unggul dan dikategorikan sangat efektif. Pada pengamatan 24 jam, dosis 0,18 ml dan 0,20 ml mampu mencapai tingkat kematian 100%. Hal ini disebabkan oleh kandungan senyawa limonoida (terpenoid) yang bekerja sebagai racun perut dan menghambat sistem pernapasan larva. Sementara itu, ekstrak daun kemangi menunjukkan efektivitas sedang hingga tinggi dengan angka kematian mencapai 73,3% pada dosis tertinggi dalam waktu 24 jam. Senyawa eugenol dan flavonoid dalam kemangi berperan merusak membran sel dan mengganggu sistem saraf larva. Di sisi lain, ekstrak daun sereh menunjukkan hasil yang paling rendah dibandingkan kedua bahan lainnya. Hingga pengamatan 24 jam, tingkat kematian tertinggi hanya mencapai 36%, yang berarti belum mencapai ambang (50% kematian). Rendahnya efektivitas sereh diduga karena sifat senyawa sitral dan geraniol yang sangat volatil (mudah menguap) di media terbuka, sehingga daya bunuhnya berkurang seiring waktu. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa bahan nabati, terutama jeruk nipis dan kemangi, sangat berpotensi sebagai alternatif pengendalian vektor malaria yang aman bagi kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem
Copyrights © 2026