Krisis ekologi dipahami bukan sekadar sebagai masalah teknis, melainkan termasuk krisis spiritual dan moral yang ditandai dengan paradoks antara klaim keberagamaan dengan praktik eksploitasi alam yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi praktik beragama berbasis ekoteologi sebagai strategi inovatif dalam membentuk karakter ekologis yang berkelanjutan, sekaligus menjawab kelangkaan pendekatan yang secara kritis mengintegrasikan dimensi transendental dan motivasi intrinsik keagamaan ke dalam pendidikan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui kajian pustaka. Hasil utama penelitian mengungkapkan bahwa integrasi nilai-nilai ekoteologis—terutama melalui penafsiran ulang konsep khalifah (penjaga bumi), mizan (keseimbangan), dan amanah (tanggung jawab)—ke dalam ritual dan praktik keagamaan harian secara signifikan tidak hanya meningkatkan kesadaran ekologis, tetapi juga memobilisasi aksi kolektif konkret yang berbasis pada semangat ibadah. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada demonstrasi empiris bahwa efektivitas pendekatan ini bersumber dari kemampuannya menyentuh dimensi transendental, membangun self-efficacy ekologis, serta menginternalisasi nilai-nilai konservasi sebagai bagian integral dari identitas keberagamaan itu sendiri. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik beragama berbasis ekoteologi tidak hanya merepresentasikan strategi pendidikan karakter yang efektif, tetapi juga menawarkan solusi berkelanjutan untuk krisis lingkungan yang berakar pada transformasi spiritual dan rekonstruksi paradigma antroposentris menuju etika ekosentris dalam keberagamaan.
Copyrights © 2026