Digitalisasi media memberi ruang pada konten-konten bermuatan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, Intersex, Aseksual, dan lainnya (LGBTQIA+) hadir secara terang-terangan di berbagai platform media baru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi homoseksualitas di media baru melaluifilm pendek “PRIA” yang ditayangkan di platform YouTube. Metode yang digunakan adalah kualitatif, yang dielaborasi dengan analisis semiotika Roland Barthes dan konsep kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film pendek “PRIA” tidak menyajikan nilai homoseksualitas secara eksplisit atau konfrontatif, melainkan melalui narasi yang tenang dan kaya akan nuansa emosional yang mendalam. Gaya penyajian ini memungkinkan penonton secara bertahap menerima keberadaan homoseksual, meskipun secara tidak langsung mulai menggoyahkan nilai-nilai budaya yang sudah mapan tanpa memicu resistensi yang keras. Kebaruan kajian ini terletak pada upaya penerapan kerangka konsep kekerasan simbolik pada lanskap media baru, yang mana perlawanan terhadap kekerasan simbolik di masa kini tidak lagi mengandalkan konfrontasi terbuka, tetapi melalui normalisasi afektif: cerita-cerita yang membangkitkan empati dan ikatan emosional, serta mudah menyebar luas di berbagai platform digital. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial serta pola konsumsi tontonan netizen telah menjadi wujud doxa masa kini, yang secara tak kasatmata mereproduksi tandingan dominasi simbolik tentang gender.
Copyrights © 2026