Latar Belakang : Berat badan merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian status gizi dan kesehatan balita. Berat badan yang sesuai dengan usia balita menunjukkan bahwa anak tersebut mendapatkan asupan gizi yang baik. Berdasarkan sumber data Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi wasting pada balita di Indonesia mencapai 21,6% prevalensi balita wasting di Jawa Timur mencapai 15,8%. prevalensi status gizi balita di Kabupaten Jember 8,93% mengalami kejadian wasting, Di desa Biting prevalensi mencapai 17,78% dari 61 Balita mengalami wasting. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Perubahan Berat Badan Sebelum Dan Sesudah Diberikan Telur Puyuh Pada Balita Wasting Usia 1-3 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa. Metode : Menggunakan desain pre eksperimental one group pre-post test. Populasi 40 balita wasting dengan jumlah sampel 18 balita wasting usia 1-3 tahun Menggunakan Teknik Simple Random Sampling,. Analisis data paired sample t-test. Hasil : Hasil rata-rata berat badan sebelum diberikan telur puyuh Mean 9.4556, SD 1.66140, SE .39160, Hasil rata-rata berat badan sesudah diberikan telur puyuh Mean 10.2222, SD 1.83128, SE .43164. Berdasarkan analisis uji paired t-test sebelum dan sesudah diberikan telur puyuh pada balita wasting usia 1-3 tahun didapatkan hasil p-value 0,000 < α 0,05 ada perubahan peningkatan berat badan sebelum dan sesudah diberikan telur puyuh selama 30 hari. Kesimpulan : Pemberian telur puyuh selama 30 hari dengan jumlah 3 butir setiap hari berturut-turut ada perubahan peningkatan berat badan dengan rata-rata sebesar 0,8 kg. Saran : Untuk masyarakat dapat memberikan telur puyuh kepada anaknya yang memiliki berat badan kurang.
Copyrights © 2026