Perubahan iklim menimbulkan ancaman serius di wilayah pesisir, ditandai dengan kenaikan muka air laut dan tingginya kejadian bencana hidrometeorologi (mencapai 32.944 kejadian di Indonesia pada tahun 2011-2023). Risiko jangka panjang perubahan iklim berdampak signifikan terhadap ketahanan sumber daya, terutama bagi Perempuan. Oleh karena itu, Program Kampung Iklim (ProKlim) yang berfokus pada pengarusutamaan gender sesuai PermenLHK No.84 Tahun 2016 sangat penting sebagai upaya adaptasi dan mitigasi. Berdasarkan studi terdahulu, program lingkungan berbasis pemberdayaan masyarakat telah dikaji, namun belum sepenuhnya memperhatikan aspek gender dalam ProKlim, Penelitian ini bertujuan menganalisis keberhasilan ProKlim Tingkat Utama di Kelurahan Tugurejo dengan menitikberatkan pada hubungan gender tersebut. Penelitian ini menggunakan metode mix method di wilayah RW 01, RW 04, dan RW 05 Kelurahan Tugurejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat kesetaraan gender dengan keberhasilan ProKlim dikategorikan cukup setara (47,9%) dan didominasi oleh partisipasi Perempuan. Berdasarkan analisis Chi-Square, ditemukan hubungan yang signifikan antara Karakteristik gender dengan Dukungan Keberlanjutan, Peran gender dengan Mitigasi dan Kesetaraan gender, serta Kesetaraan gender dengan Adaptasi. Meskipun demikian, analisis Spearman menunjukkan korelasi tertinggi justru dimiliki oleh hubungan antara Mitigasi dengan Dukungan Keberlanjutan. Berdasarkan uji normalitas, cut off point keberhasilan ProKlim Kelurahan Tugurejo mencapai 74,3%. Penilitian ini menyimpulkan bahwa tingkat kesetaraan gender yang setara merupakan faktor penentu keberhasilan ProKlim yang responsif gender. Penelitian ini, memiliki implikasi konkret bagi kebijakan untuk menghadapu dampak perubahan iklim secara inklusif, selaras dengan SDG’s nomor 5 dan RPJMN 2020 – 2024 yang memuat indikator peningkatan program pembangunaan berketahanan iklim.
Copyrights © 2026