Kota Mojokerto sebagai wilayah urban dengan keterbatasan lahan menghadapi tekanan pembangunan yang tinggi, yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung pangan dan air berdasarkan data spasial dan tabular, serta menilai kesesuaiannya dengan dokumen perencanaan seperti RTRW, RPJMD, dan Renstra sektoral. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran kuantitatif-kualitatif dengan analisis spasial berbasis grid resolusi 150×150 meter dan kajian kebijakan melalui gap analysis. Hasil menunjukkan bahwa daya dukung air Kota Mojokerto secara agregat berada dalam kondisi surplus, yaitu sebesar 61,9 juta m³/tahun dibandingkan kebutuhan 21,9 juta m³/tahun. Namun, terdapat ketimpangan spasial terutama di Kecamatan Magersari sebagai pusat kota. Sebaliknya, daya dukung pangan mengalami defisit signifikan, di mana produksi beras lokal hanya mampu mencukupi 16,6% dari total kebutuhan penduduk. Evaluasi dokumen perencanaan mengungkapkan bahwa proporsi program yang menangani isu pangan dan air masih rendah dan belum terintegrasi secara spasial serta lintas sektor. Program pangan cenderung fokus pada produksi, sementara program air belum menjangkau wilayah-wilayah padat penduduk secara optimal. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan perlunya integrasi antara perencanaan spasial dan sektoral, peningkatan perlindungan lahan pertanian, pemerataan distribusi air, serta penyusunan kebijakan yang berbasis data daya dukung secara spasial untuk mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026