Permasalahan sampah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan Kampung Daur Ulang sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan teoritis yang digunakan meliputi konsep pembelajaran berbasis pengalaman, respons psikologis kognitif–afektif–psikomotorik, serta filosofi Kintsugi sebagai dasar transformasi bentuk dan makna desain. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, studi literatur, dan analisis kebutuhan ruang yang diterjemahkan ke dalam konsep perancangan arsitektural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelompokan ruang berdasarkan alur pengalaman pengguna—Curious, Aware, dan Engaged—mampu mengintegrasikan fungsi edukasi, observasi proses, dan partisipasi aktif dalam satu sistem pembelajaran ruang. Alur pengalaman ini diarahkan kepada pengelompokan tiga zona yaitu Zona Edukasi, Zona Pengolahan Sampah, serta Zona Pengelolaan dan Pemberdayaan. Zona Edukasi dan Zona Pengolahan Sampah merupakan zona yang mendorong tahap kognitif dan afektif, sedangkan Zona Pengelolaan dan Pemberdayaan mendorong tahap psikomotorik. Bentuk bangunan mengambil inspirasi dari filosofi Kintsugi, yang merepresentasikan pemulihan dan pemberian nilai baru pada material yang terfragmentasi, selaras dengan konsep daur ulang. Ruang-ruang disusun dalam pola terbuka baik secara fisik maupun visual yang memperkuat hubungan antara pemahaman, kesadaran, dan tindakan pengguna. Konsep desain yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional fasilitas pengolahan, tetapi juga berperan sebagai media edukasi sosial yang sistematis dalam mendorong praktik pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Deli Serdang.
Copyrights © 2026