Kawasan Asia Afrika di Bandung merupakan ruang publik warisan budaya yang memadukan nilai-nilai sejarah dengan aktivitas perkotaan yang dinamis. Meskipun memiliki karakter visual yang kuat dan makna simbolis, kualitas pengalaman publik di kawasan ini belum sepenuhnya dipahami secara konseptual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur persepsi pengunjung dan menganalisis pembentukan rasa tempat dalam konteks ruang publik warisan budaya. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui pertanyaan terbuka dari 101 responden. Analisis dilakukan menggunakan pengkodean terbuka dan pengkodean aksial untuk membangun kategori konseptual secara induktif. Hasil open coding menunjukkan bahwa persepsi pengunjung dibentuk oleh berbagai dimensi pengalaman multisensorik, termasuk suasana, karakter visual, aktivitas, kenyamanan, dan kondisi lingkungan. Selain itu, pengkodean aksial mengelompokkan temuan ini ke dalam empat dimensi utama: Rasa Tempat, Kenyamanan Fungsional, Pengelolaan Kerumunan, dan Dukungan Lingkungan, dengan elemen arsitektur warisan budaya bertindak sebagai pemicu identitas. Dominasi dimensi Rasa Tempat menunjukkan bahwa kawasan tersebut dipandang lebih sebagai tempat yang sarat makna daripada sekadar ruang fungsional. Makna ini terbentuk melalui interaksi antara nilai-nilai simbolis dan kinerja fungsional, serta diperkuat oleh interaksi sosial dan beragam kegiatan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan warisan budaya harus menyeimbangkan pelestarian sejarah dengan peningkatan kenyamanan, kegiatan, dan kualitas lingkungan guna menciptakan pengalaman publik yang optimal dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026