Krisis reputasi yang dialami Aqua akibat isu penggunaan sumur bor sebagai sumber air pada tahun 2025, menunjukkan rapuhnya reputasi korporasi yang dibangun melalui citra sumber mata air alami. Krisis Kepercayaan terjadi, saat publik mempertanyakan klaim Aqua sebagai air pegunungan murni, sementara perusahaan menegaskan bahwa air diambil dari akuifer dalam. Analisis menggunakan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) menempatkan kasus ini dalam kategori preventable cluster, di mana publik memberi atribusi tanggung jawab tinggi kepada perusahaan. Respons awal Aqua berupa penjelasan teknis dikategorikan sebagai strategi diminish, namun terbukti tidak cukup untuk meredakan krisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif untuk mengungkapkan langkah yang ditempuh Aqua dalam mengatasi krisis. Pengumpulan data bersumber dari berbagai berita media online resmi, media sosial, pernyataan resmi perusahaan, artikel jurnal, dan rujukan dari berbagai situs web. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam krisis dengan tingkat tanggung jawab tinggi, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan penjelasan teknis. SCCT menekankan perlunya strategi rebuild yang lebih kuat, yaitu permintaan maaf yang jelas dan keterbukaan data serta komitmen perbaikan. Pemulihan reputasi tidak cukup dengan klarifikasi, tetapi membutuhkan kombinasi komunikasi yang empatik, tindakan korektif yang nyata, dan transparansi yang bisa diverifikasi publik. Dengan cara ini, kepercayaan dapat dibangun kembali secara lebih kredibel dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026