Ideologi keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk struktur sosial, identitas kolektif, dan arah pembangunan masyarakat. Dalam sejarah Iran, terdapat dua momentum besar yang menunjukkan bagaimana ideologi Syiah tidak hanya berfungsi sebagai sumber legitimasi politik, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial dan pengembangan masyarakat, yaitu berdirinya Dinasti Safaviyah pada tahun 1501 M dan Revolusi Islam Iran tahun 1979. Artikel ini bertujuan menganalisis secara komparatif peran ideologi Syiah dalam membentuk perubahan sosial, membangun identitas kolektif, mengembangkan institusi keagamaan, serta memperkuat kohesi masyarakat pada kedua periode tersebut. Penelitian ini menggunakan metode historiografi komparatif dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap sumber primer dan sekunder yang relevan. Kerangka teoritis penelitian mengintegrasikan teori revolusi sosial Theda Skocpol, konsep otoritas kharismatik Syiah Said Amir Arjomand, serta teori konstruksi identitas kolektif dalam masyarakat religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Dinasti Safaviyah maupun Republik Islam Iran memanfaatkan ideologi Syiah sebagai instrumen transformasi sosial melalui tiga mekanisme utama, yaitu pembentukan identitas keagamaan kolektif, institusionalisasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan dan kehidupan sosial, serta penguatan solidaritas masyarakat melalui jaringan ulama dan lembaga keagamaan. Meskipun kedua periode memiliki konteks historis yang berbeda, keduanya menunjukkan pola yang relatif serupa dalam menjadikan agama sebagai sumber daya sosial untuk membangun kohesi masyarakat dan memperkuat pembangunan sosial. Temuan ini memperlihatkan bahwa ideologi keagamaan dapat berfungsi sebagai modal sosial yang berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat Islam dalam jangka panjang
Copyrights © 2026