Cigadung Subdistrict in Bandung City faces a serious household-waste problem, generating around 10 tons per day, of which more than 60% is organic. This community-engagement program aimed to strengthen residents’ capacity to manage organic waste using black soldier fly (BSF) larvae within a circular-economy approach while developing a community-based enterprise model. The program was implemented at Buruan SAE Barokah (RW 04) and Buruan SAE Bumi Lestari (RW 08) through the construction of biopond systems, integration with urban farming, and the delivery of technical and entrepreneurship training. Implementation followed four stages: socialization, biopond technology deployment, training, and periodic mentoring and evaluation. Training covered maggot cultivation, frass processing, business model development, basic financial recording, and marketing strategies. Results indicate improved skills and operational capacity among partner groups, reflected by an increase in maggot production from an average of 4 kg to 8–9 kg per week. The resulting frass was utilized as organic fertilizer to support household-scale urban farming, reinforcing a local value chain and resource circulation. Beyond environmental benefits from diverting organic waste, the program stimulated new economic opportunities through the Magotpreneur Cigadung community. Monitoring used field observations, focused group discussions, and weekly production logs, suggesting that the model is replicable for other neighborhoods and contributes to SDGs 1, 8, 11, and 12. Keywords: organic waste, BSF larvae, circular economy, biopond, urban farming, community empowerment Abstrak Kelurahan Cigadung, Kota Bandung, menghadapi persoalan serius berupa timbulan sampah rumah tangga sekitar 10 ton per hari, dengan lebih dari 60% berupa sampah organik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas warga dalam mengelola sampah organik berbasis magot (Black Soldier Fly/BSF) melalui pendekatan ekonomi sirkular serta mengembangkan model usaha komunitas. Program dilaksanakan di Buruan SAE Barokah RW 04 dan Buruan SAE Bumi Lestari RW 08 dengan membangun sistem biopond, mengintegrasikannya dengan urban farming, dan menyelenggarakan pelatihan teknis serta kewirausahaan. Implementasi dilakukan dalam empat tahap: sosialisasi, penerapan teknologi biopond, pelatihan, serta pendampingan dan evaluasi berkala. Materi pelatihan mencakup budidaya magot, pengolahan frass, pengembangan model bisnis, pencatatan keuangan sederhana, dan strategi pemasaran. Hasil menunjukkan peningkatan keterampilan dan kapasitas kelompok mitra, yang tercermin dari kenaikan produksi magot dari rata-rata 4 kg menjadi 8–9 kg per minggu. Frass dimanfaatkan sebagai pupuk untuk memperkuat produksi pangan skala rumah tangga, sehingga membangun sirkulasi sumber daya di tingkat lokal. Selain manfaat lingkungan berupa pengurangan sampah organik, program mendorong peluang ekonomi baru melalui komunitas Magotpreneur Cigadung. Evaluasi dilakukan melalui observasi lapangan, diskusi kelompok terarah, dan pencatatan produksi mingguan untuk menilai kesiapan operasional, kedisiplinan pemilahan, serta peluang peningkatan pendapatan. Model ini bersifat replikatif karena memanfaatkan sumber daya lokal dan dapat diadopsi oleh RW lain sebagai strategi pengurangan sampah berbasis komunitas. Kata kunci: sampah organik, magot BSF, ekonomi sirkular, biopond, urban farming, pemberdayaan masyarakat
Copyrights © 2025