Penelitian ini membahas Tari Mamanjo sebagai representasi budaya masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Penelitian dilatarbelakangi oleh berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna simbolik Tari Mamanjo akibat modernisasi yang menyebabkan tari lebih dipahami sebagai hiburan estetis. Penelitian bertujuan mengidentifikasi fungsi Tari Mamanjo, menganalisis makna simbolik gerak, busana, dan properti tari, serta menafsirkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan perspektif antropologi budaya. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di Sanggar Tari Gema Serunai dengan informan tokoh adat, pelatih tari, penari, dan pengelola sanggar yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta teori semiotika Roland Barthes untuk mengkaji makna denotasi, konotasi, dan mitos budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Mamanjo memiliki fungsi sosial, ritual, dan simbolik sebagai media penyambutan, penghormatan, komunikasi adat, dan perekat solidaritas masyarakat Serawai. Makna simbolik terlihat pada gerak sembah dan menjemput sebagai simbol penghormatan dan penerimaan sosial, busana adat sebagai identitas budaya dan religiusitas, serta cerana sirih pinang sebagai simbol persaudaraan dan keharmonisan sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa Tari Mamanjo mengalami transformasi melalui penyesuaian koreografi dan media digital tanpa menghilangkan nilai filosofisnya. Penelitian ini berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pengembangan kajian semiotika seni pertunjukan tradisional
Copyrights © 2026