The transformation of Jaipongan Kiwari shows how performing arts can adapt to social changes and contemporary demands while preserving their traditional roots. Innovations in themes and dramatic structure allow for flexibility while maintaining core Sundanese cultural values. This study explores Jaipongan Kiwari as a space for negotiating cultural identity, emphasizing the tension between artistic expression and social change. Using interpretive qualitative methods and Critical Theory analysis, it reveals that Jaipongan's transformation extends beyond aesthetic aspects to closely relate to the ongoing dynamics of cultural identity (cultural becoming). This change is not only influenced by external factors but also driven by active efforts to reconstruct existing values. It highlights the relationship between Art, Knowledge, and Power, where market forces and access to formal education influence what is considered legitimate art. Ultimately, Jaipongan Kiwari acts as a performative bridge between cultural tradition and modern aesthetic exploration, reflecting the complex social dynamics of Sundanese society in today’s world.Jaipongan Kiwari: Kreativitas, Inovasi, dan Representasi Identitas sebagai Respons terhadap Wacana Dinamika Sosial Budaya Masyarakat Sunda Abstrak Transformasi Jaipongan Kiwari merepresentasikan bagaimana seni pertunjukan mampu beradaptasi secara dinamis terhadap perubahan sosial dan tuntutan zaman tanpa kehilangan akar tradisionalnya. Inovasi pada aspek tematik dan struktur dramatik membuka ruang adaptabilitas yang luas, sembari tetap menginternalisasikan nilai-nilai budaya Sunda yang fundamental. Penelitian ini mengkaji Jaipongan Kiwari sebagai arena negosiasi identitas budaya, dengan menyoroti dialektika antara representasi artistik dan perubahan sosial. Menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan pisau analisis Critical Theory, penelitian ini mengungkap fakta bahwa transformasi Jaipongan tidak hanya berkutat pada ranah Aesthetic Text, melainkan berkelindan erat dengan konteks dinamika identitas budaya yang terus berkembang (Cultural Becoming). Dalam perspektif yang lebih luas, perubahan ini tidak semata-mata dideterminasi oleh faktor eksternal, melainkan digerakkan oleh peran aktif Agency dalam merekonstruksi nilai-nilai yang ada. Fenomena tersebut menyingkap relasi trikotomi antara Art, Knowledge, and Power dalam masyarakat, di mana dominasi mekanisme pasar dan akses terhadap pendidikan formal menjadi penentu legitimasi sebuah karya seni. Pada akhirnya, Jaipongan Kiwari berfungsi sebagai wahana performatif yang menjembatani ketegangan antara konservatisme budaya dan penjelajahan estetika kontemporer, sekaligus mengilustrasikan kompleksitas dinamika kehidupan masyarakat Sunda di era modern.
Copyrights © 2026