Menara Air Hindia Belanda di Pulo Brayan merupakan peninggalan kolonial yang kaya akan artefak linguistik, mulai dari prasasti Belanda-Melayu hingga narasi lisan masyarakat lokal. Situs ini mencerminkan pergeseran identitas Sumatra Utara yang multietnis, di mana bahasa berfungsi sebagai alat resistensi, adaptasi, dan rekonstruksi pascakolonial. Kajian sociolinguistik diperlukan untuk memahami bagaimana ragam bahasa (dari diksi formal kolonial ke hibridisasi dialek Medan modern) membentuk memori kolektif. Pendekatan kualitatif dengan analisis konten terhadap dokumen arsip, plakat situs, dan wawancara 30 informan warga Pulo Brayan. Data dikategorikan diakronik: era kolonial (1900-1942), pasca-kemerdekaan (1945-1998), dan era digital. Teknik triangulasi melibatkan observasi lapangan dan analisis semiotik untuk mengungkap pola eufemisme, kode-switching, dan variasi bahasa lokal (Batak-Melayu). Penelitian ini berkontribusi pada mata kuliah Bahasa Indonesia dengan rekomendasi bahan ajar berbasis situs bersejarah untuk mengajarkan sociolinguistics dan pelestarian ragam bahasa. Secara praktis, disarankan plakat bilingual serta program edukasi virtual untuk wisata budaya. Studi ini memperkaya diskursus identitas nasional melalui lensa bahasa dinamis.
Copyrights © 2026