Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara meningkatnya gerakan boikot di media sosial dengan profitabilitas PT Unilever Indonesia Tbk selama periode 2023–2024. Eskalasi konflik Israel–Palestina memicu munculnya kampanye boikot terhadap sejumlah perusahaan multinasional yang kemudian berkembang secara luas melalui platform media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder berupa laporan keuangan triwulanan PT Unilever Indonesia Tbk selama delapan kuartal pengamatan periode 2023–2024 dan data frekuensi unggahan media sosial X. Analisis dilakukan secara deskriptif dan korelasional terhadap indikator profitabilitas yang meliputi Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan Earnings per Share (EPS). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif dengan tingkat korelasi kuat antara intensitas percakapan boikot dan indikator profitabilitas ROA, NPM, dan EPS, sedangkan hubungan terhadap ROE berada pada kategori sedang. Lonjakan percakapan publik pada akhir tahun 2023 diikuti pelemahan pada beberapa indikator keuangan perusahaan hingga tahun 2024. Temuan ini menunjukkan bahwa sentimen publik digital berpotensi memengaruhi persepsi konsumen, tekanan reputasi perusahaan, serta respons pasar terhadap perusahaan multinasional. Penelitian menegaskan pentingnya pengelolaan reputasi dan strategi komunikasi perusahaan di era media digital yang semakin sensitif terhadap isu sosial dan kemanusiaan.
Copyrights © 2026