Kesalahan proses labelling spesimen merupakan masalah utama pada fase pra-analitik laboratorium yang berpotensi menyebabkan kesalahan diagnosis, keterlambatan pelayanan, dan penurunan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan potensi kesalahan labelling sebelum dan sesudah penerapan Laboratory Information System (LIS) di laboratorium rumah sakit di Denpasar. Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Data sekunder laporan labelling selama 12 bulan sebelum dan sesudah penerapan LIS dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Wilcoxon Signed Rank Test. Rata-rata kesalahan labelling menurun dari 16,17 menjadi 1,17 kasus. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,002). Kelengkapan informasi labelling meningkat dari 60,42% menjadi 100% (p=0,002), sedangkan indikator mutu tidak berbeda signifikan (p=0,433). Penerapan LIS efektif menurunkan kesalahan labelling serta meningkatkan mutu pelayanan laboratorium dan keselamatan pasien.
Copyrights © 2026