Perubahan garis pantai merupakan fenomena dinamis di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh proses oseanografi, seperti gelombang dan pasang surut, serta dapat berdampak pada stabilitas lingkungan pesisir. Pantai Parangtritis, yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, memiliki dinamika garis pantai yang tinggi sehingga perlu dikaji secara kuantitatif dalam rentang waktu yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai Pantai Parangtritis selama periode 2004–2024 serta keterkaitannya dengan faktor oseanografi, khususnya gelombang laut dan pasang surut. Analisis dilakukan menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan parameter Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) berdasarkan citra Landsat multitemporal, sedangkan faktor oseanografi dianalisis menggunakan data deret waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan garis pantai didominasi oleh abrasi, dengan 59% dari 79 transek mengalami kemunduran. Nilai EPR minimum mencapai -9,01 m/tahun dan rata-rata -2,45 m/tahun, sedangkan akresi hanya terjadi secara lokal. Variasi tinggi gelombang tahunan berkisar antara 1,26–2,67 meter dan berasosiasi dengan intensitas abrasi pada periode tertentu. Pasang surut bertipe campuran condong semi-diurnal berperan sebagai faktor penguat abrasi. Hasil ini menunjukkan bahwa citra Landsat multitemporal dan metode DSAS efektif untuk mendukung pemantauan dan pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026