Dakwah di Indonesia berlangsung di tengah masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi lokal. Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh penyampaian ajaran agama, tetapi juga kemampuan menyesuaikan pesan keagamaan dengan budaya setempat. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi dakwah Kiai Marogan di Palembang, akulturasi ajaran Islam dengan tradisi lokal, serta implementasi nilai auliya dalam praktik dakwahnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan Kiai Marogan menyesuaikan gaya komunikasi dengan bahasa, adat, dan kebiasaan masyarakat sehingga pesan dakwah mudah diterima. Dalam praktiknya, Kiai Marogan mengintegrasikan ajaran Islam dengan tradisi lokal seperti tahlil, ratib saman, nigo tujuh, penggunaan bedug, dan adat pernikahan tanpa mengabaikan syariat. Nilai auliya seperti kesabaran, kebijaksanaan, kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian sosial diterapkan melalui keteladanan pribadi, menjadikannya tokoh yang dipercaya masyarakat. Keberlanjutan dakwah terlihat dari kegiatan haul dan pengamalan ajaran Islam yang tetap hidup di masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah yang menyesuaikan diri dengan budaya lokal dan menerapkan nilai auliya dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap Islam serta membantu melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.
Copyrights © 2026