Fasilitas interior yang tidak aksesibel masih menjadi hambatan signifikan dalam mewujudkan kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas di ruang publik. Meskipun berbagai standar aksesibilitas telah diterapkan, efektivitasnya dalam mendukung pengalaman pengguna di lapangan masih menunjukkan ketidakkonsistenan, sehingga pemenuhan standar teknis belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran elemen desain inklusif dalam membentuk aksesibilitas pengguna disabilitas di ruang publik melalui pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan mengacu pada pedoman teknis bangunan dan standar desain aksesibel internasional sebagai kerangka evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejelasan sistem sirkulasi, keterbacaan ruang, kemudahan akses, serta integrasi elemen multisensori berperan penting dalam membantu pengguna memahami dan menavigasi ruang secara mandiri. Sebaliknya, ketidakteraturan tata ruang dan kurangnya elemen orientasi yang jelas berkontribusi terhadap disorientasi serta meningkatkan ketergantungan pengguna terhadap bantuan. Penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan antara pemenuhan standar teknis dan pengalaman aksesibilitas pengguna, serta menekankan pentingnya pendekatan desain yang berorientasi pada pengalaman pengguna dalam menciptakan ruang publik yang inklusif.
Copyrights © 2026