Fenomena Fear Of Missing Out (FOMO) di era digital tidak hanya dipahami sebagai kecemasan psikologis akibat kecanduan media sosial, tetapi juga menyimpan dimensi spiritual yang memerlukan pendekatan normative-religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan FOMO serta mengkontekstualisasikannya dengan realitas masyarakat digital kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan metode tematik (maudu’i). Data primer bersumber dari Tafsir Al-Azhar jilid 2,3, dan 6 pada QS. An-Nisa’: (32), QS. Thaha: (131), QS. Al-An’am: (116), sedangkan data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah dan literatur psikologi sosial, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hamka menafsirkan FOMO sebagai manifestasi dari kelemahan spiritual. Tiga nilai utama ditemukan: syukur sebagai terapi kecemasan, qana’ah sebagai benteng perbandingan sosial, dan pengendalian diri sebagai filter arus informasi. Dengan penelitian ini, penafsiran Hamka menawarkan rekontruksi konseptual FOMO dengan menggeser locus of control dari validasi eksternal media sosial menuju keteguhan tauhid, sehingga relevan sebagai landasan literasi digital berbasis nilai keagamaan.
Copyrights © 2026