Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024–2025 menunjukkan adanya ketimpangan yang cukup signifikan antarwilayah, terutama antara Provinsi DKI Jakarta dan Papua Barat. Jakarta sebagai pusat pemerintahan, bisnis, dan investasi nasional mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dengan dukungan infrastruktur modern, tingkat konsumsi tinggi, serta akses teknologi yang luas. Sebaliknya, Papua Barat masih menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya kualitas sumber daya manusia, ketergantungan terhadap sektor primer, serta distribusi pembangunan yang belum merata. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, jurnal ilmiah, dan laporan ekonomi nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perilaku ekonomi masyarakat, lingkungan geografis, kualitas pendidikan, investasi, serta kebijakan pembangunan menjadi faktor utama penyebab ketimpangan pertumbuhan ekonomi di kedua provinsi. Dalam perspektif teori makroekonomi, ketimpangan ini berkaitan dengan perbedaan produktivitas faktor produksi, perilaku konsumsi, dan efisiensi pasar tenaga kerja. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembaca mengenai realitas ketimpangan ekonomi Indonesia sekaligus mendorong perhatian terhadap pentingnya pemerataan pembangunan nasional.
Copyrights © 2026