Salah satu isu besar dalam pendidikan dasar adalah membantu peserta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, karena banyak guru masih terlalu menekankan pada hafalan informasi serta kurang mendorong siswa guna berpikir kritis serta mempergunakan penalaran berbasis bukti. Visi artikel ini guna menjelaskan serta memberikan contoh bagaimana pembelajaran berbasis masalah membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka dalam konteks kelas studi sosial dan sains di sekolah dasar. Sebanyak enam puluh siswa kelas lima dibagi menjadi dua kelompok untuk penelitian ini: satu kelompok menerima perlakuan eksperimental dan kelompok lainnya menerima perlakuan kontrol. Peneliti menggunakan kuasi-eksperimental kuantitatif dengan desain kelompok kontrol non-ekuivalen. Dengan mempergunakan buku harian reflektif, lembar observasi kelas, serta ujian berpikir kritis terbuka guna mengumpulkan data. Metode statistik seperti statistik deskriptif, uji normalitas dan homogenitas, uji t sampel independen, analisis N-gain, dan perhitungan ukuran efek Cohen's digunakan untuk memeriksa data yang dikumpulkan. Meskipun peningkatan alami kelompok kontrol dari 55,91 menjadi 66,56 pada pretest, temuan yang menampilkan skor rerata kelompok eksperimen meningkat dari 56,13 menjadi 78,52 pada posttest. Ukuran efek yang kuat sebesar d = 1,65 terlihat dengan perubahan yang signifikan secara statistik pada kinerja posttest, seperti ditunjukkan oleh hasil uji t sampel independen, serta t(58) = 6,39 dan p < 0,001. Skor N-gain moderat 0,52 dicapai oleh kelompok eksperimen, disandingkan skor rendah 0,25 oleh kelompok kontrol. Jika instruktur memberikan isu kontekstual, mendorong penyelidikan berdasarkan bukti, dan menggunakan prosedur penilaian reflektif guna memperkuat keterampilan penalaran peserta didiknya, maka pembelajaran berbasis masalah sangat cocok.
Copyrights © 2026