Artikel ini mengeksplorasi batik keraton tidak hanya sebagai seni visual tetapi sebagai sistem simbolik yang mengatur dan mereproduksi struktur sosial Jawa. Berfokus pada motif larangan di Keraton Yogyakarta seperti Parang Barong, Parang Gendreh, dan Parang Klitik , penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menggabungkan analisis semiotik, komunikasi personal, dan kritik budaya berorientasi gender. Temuan menunjukkan bahwa distribusi motif hierarkis berdasarkan skala dan intensitas visual berfungsi sebagai penanda status sosial sekaligus membentuk identitas gender. Motif besar dan tegas diperuntukkan bagi laki-laki bangsawan, sedangkan pola yang lebih kecil dan lebih halus dikenakan oleh perempuan, mencerminkan bahasa visual yang memandu perilaku, melegitimasi otoritas, dan memperkuat hierarki gender. Artikel ini berpendapat bahwa batik harus dibaca tidak hanya sebagai objek estetika tetapi sebagai media politik-budaya yang tertanam dalam hubungan kekuasaan. Artikel ini juga mengusulkan penelitian yang lebih luas tentang tradisi batik non-keraton, seperti sodagaran dan pesisiran, untuk memperluas narasi yang lebih inklusif. Penafsiran ini mengakui warisan budaya keraton dan menyoroti signifikansi historis wanita keraton dalam mempertahankan tradisi batik.
Copyrights © 2026