Suku Tengger masih kental dengan kebudayaannya, terutama pada upacara kematian. Tradisi Hari Kematian diawali pada hari meninggal hingga pemakaman seseorang. Tentunya pada tradisi Hari Kematian suku Tengger ini memiliki keunikan dan kesakralan tersendiri yang membuatnya menarik. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan bentuk lingual, makna, referensial, dan nilai filosofi pada tradisi Hari Kematian suku Tengger dalam kajian Antropolinguistik. Sumber data pada penelitian ini diperoleh dari hasil dokumentasi dan wawancara terhadap pemuka adat suku Tengger, Romo Eko dan Romo Pram. Dari narasumber tersebut dapat ditemukan piranti yang digunakan dalam ritual hari kematian seperti nyigar ontong, isen-isen, suguhan dan lainnya. Metode pengumpulan data yang akan digunakan adalah teknik simak dan catat. Metode analisis data akan menggunakan metode analisis wacana. Analisis wacana dipilih untuk mempelajari penggunaan bahasa tulis atau tulisan dalam kaitannya dengan konteks sosial. Lalu, makna referensial yang digunakan berdasarkan segitiga makna Ogden dan Richards dengan kategori budaya, sosial, sejarah, alam, religi, dan ekonomi. Hasil penelitian ditemukan bentuk lingual yang diperoleh dari upacara kematian, yakni 2 kategori: afiksasi dan reduplikasi, sedangkan pada makna referensial ditemukan 15 makna. Nilai filosofis pada tradisi kematian Tengger antara lain filosofis moral dan juga nilai filosofis adat/tradisi.Kata kunci: nilai filosofis, arti kematian, Tengger, Antropolinguistik
Copyrights © 2023